Kisah Inspirasi Siddhartha Gautama Menjadi Teladan Bagi Banyak Orang

Kisah Inspirasi Siddhartha Gautama Menjadi Teladan Bagi banyak Orang

Siddhartha Gautama merupakan tokoh terkenal dunia pendiri agama Budha. Siddhartha Gautama yang menjadi teladan bagi banyak orang ini sebenarnya adalah putra dari seorang raja yang bertahta di Kota Kapilavastu, Jambudwipa (yang sekarang dikenal dengan nama kerajaan Nepal).

Sebagai anak dari Raja Kerajaan Kapilavastu, Siddhartha lahir di Taman Lumbini yang terletak di deretan perbukitan Himalaya, India bagian utara. Kerajaannya sendiri berjarak sejauh 64 kilometer dari pegunungan Himalaya tersebut. Siddhartha sendiri terlahir dari pasangan ayah dan ibu bernama Suddhodana dan Mahamaya. Ayah dan ibunya tersebut merupakan orang suku Sakya yang berasal dari kalangan kasta Ksatria.

Nama Siddhartha Gautama yang diberikan oleh kedua orang tuanya tersebut berasal dari 2 suku kata, yaitu Siddhartha dan Gautama. Siddhartha memiliki arti orang yang berhasil mencapai segala cita-citanya, sedangkan Gautama diambil dari nama leluhurnya yang merupakan sosok guru terkenal pada masanya.

Fase kehidupan yang dijalani oleh Siddhartha Gautama yang menjadi teladan bagi banyak orang dapat kami jabarkan dalam beberapa masa sebagai berikut:

Masa Kelahiran

Ibunya yang bernama Ratu Mahamaya pernah memimpikan suatu hal yang menakjubkan sebelum ia akhirnya mengandung Siddhartha Gautama yang menjadi teladan bagi banyak orang. Di dalam mimpinya ketika sang ratu sedang tidur di malam hari tersebut, ia melihat sesosok Bodhisattva datang menghampirinya. Bodhisattva itu kemudian masuk ke dalam rahimnya dalam bentuk seekor gajah putih yang memilki 4 gading.

Gajah putih bergading 4 tersebut diceritakannya turun dari langit, tepatnya dari kayangan Tusita yang dalam kepercayaan mereka merupakan rumah bagi para dewa serta calon Buddha. Keesokan harinya, sang ratu segera menceritakan mimpinya tersebut pada para pertapa kepercayaan kerajaan. Para pertapa itu menafsirkan arti dari mimpi tersebut merupakan sebuah pertanda baik karena Ratu Mahamaya akan segera mengandung calon Buddha.

Benar saja, tak lama berselang dari datangnya mimpi tersebut, Ratu Mahamaya ternyata hamil. Setelah hamil selama 10 bulan, bayi tersebut lahir dengan tanpa menimbulkan rasa sakit serta bekas luka pada tubuh ibunya.  Menurut legenda yang beredar, proses kelahiran bayi Siddhartha juga sangat luar biasa karena ia lahir dari samping tubuh Ratu Mahamaya, berbeda dengan kelahiran bayi biasa pada umumnya.

Siddhartha Gautama yang menjadi teladan bagi banyak orang lahir pada bulan Mei tahun 563 SM, tepat ketika terjadinya bulan purnama dan pada saat ibunya sedang berdiri di bawah pohon Sala yang tertanam di taman Lumbini. Hari kelahirannya tersebut hingga kini diperingati sebagai hari Waisak/ Vaisakha.

Masa Dewasa

Kehidupan masa dewasa Pangeran Siddhartha sangatlah mewah dan serba berkecukupan. Ayahnya memanjakan dan menghujaninya dengan berbagai kebahagiaan duniawi yang penuh keindahan. Segala cara dan upaya dilakukan sang raja untuk menjauhkan anaknya dari lingkungan miskin yang terdapat di sekitar tempat tinggalnya keluaran togel sgp.

Jauhnya kehidupan Siddhartha dari lingkup religious memang sengaja diciptakan oleh ayahandanya sendiri dengan tujuan agar anak kesayangannya itu tak pernah melihat yang namanya penderitaan. Bahkan 3 buah istana mewah disediakan ayahnya untuk dijadikan sebagai tempat tinggal Siddhartha.

Saat ia berusia 16 tahun, orang tuanya menikahkannya dengan putri cantik dari kerajaan seberang bernama Putri Yasodhara yang telah menang dalam sayembara kerajaan yang diadakan sebelumnya. Namun saat usianya menginjak 29 tahun, Siddhartha Gautama yang menjadi teladan bagi banyak orang memutuskan untuk keluar dari istana.

Ketika itulah ia mulai melihat 4 penderitaan sekaligus. Keempat penderitaan yang disaksikannya tersebut berupa orang sakit, orang yang sudah tua, orang meninggal dunia serta seorang pertapa. Kaget dengan penderitaan yang baru sekali dilihatnya tersebut pada akhirnya membuatnya ingin mencari ilmu sejati untuk menghindarkan seluruh manusia di muka bumi ini dari penderitaan serta rasa menderita.

Sebab itulah ia mulai berguru ke beberapa pertapa terkenal, yaitu Bhagava,  Alara Kalama dan Uddaka Ramaputra. Namun setelah lama berguru, Siddhartha Gautama yang menjadi teladan bagi banyak orang tak juga berhasil menemukan jawaban yang memuaskan dari segala kegundahan dan kegelisahan yang menyelimuti hatinya.

Rasa penasarannya yang kian memuncak membuat Siddhartha akhirnya memutuskan untuk bertapa dalam pertapaan yang menyiksa dirinya hingga membuat nyawanya hampir melayang. Bahkan dikisahkan dalam pertapaannya di Hutan Uruvela, Siddhartha rela menyiksa dirinya sendiri hingga tubuhnya hanya tinggal sisa kulit dan tulang saja.

Namun meskipun telah menjalani berbagai penyiksaan diri tersebut, Siddhartha tak juga menemukan jawaban dari kegusaran hatinya selama ini. Hingga pada satu waktu, ketika ia melakukan meditasi di bawah pohon Bodhi, ia berhasil mendapatkan jawaban dari segala rasa ingin tahunya tersebut.

Siddhartha Gautama yang menjadi teladan bagi banyak orang menemukan sebab akibat dari berbagai macam penderitaan (samsara) yang terjadi pada banyak orang beserta cara-cara untuk mengatasi penderitaan yang menimpa diri mereka. Selepas itu, ia segera berkhotbah untuk pertama kalinya di taman Rusa, Isipatana, Sarnath di hadapan 5 pertapa yang dulu merupakan rekannya.

Siddhartha Gautama yang menjadi teladan bagi banyak orang berhasil mencapai moksha pada usianya yang ke-35 tahun dan selalu mengajarkan kebaikan serta rasa cinta dan kasih sayang kepada semua orang agar mereka senantiasa terjauh dari segala macam penderitaan Buddha Gautama wafat pada tahun 483 SM saat usianya menginjak angka 80 tahun.